HAYATI
Oleh:Abu Bakar
Mahasiswa Fak.Syariah,UIN Alauddin
Kepada
Kanda Imran
Yang Telah Melukis Pelangi
Di Hatiku
Assalamualaikum.Wr.Wb.
Disaat dinda menuliis surat ini,dinda kabarkan bahwa keadaan dinda dalam keadaan sehat walafiat.Semoga kanda juga dalam lindungan-Nya.
Singkat,setelah dinda tiba dikampung halaman satu minggu yang lalu dan sam[pai ada keinginan untuk menuliskan surat kepada kanda,dinda menilai bahwa dikampung halaman dinda tidak ada perubahan tatanan social.
Di tanah ini, tanah yang pertama kali ku pijak disaat aku dilahirkan adalah tanah yang terpenjara dalam kebodohan, dan tidak cukup tercerahkan. Tanah di mana masyarakatnya masih ditinds dan tidak diperkenalkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Masyarakat yang tidak memiliki keinginan memberontak untuk melawan ketidak adilan yang selama ini mereka alami.
Kepala desa dan pejabat-pejabat lain seringkili berlagak majikan dalam rumah tangga. Hanya kesalahan sepele yang dilakukan saudara-saudaraku mereka ditandang dan bahkan ditelanjangi lalu diarahkan kelilin kampong. Sesuatu yang tidak bisa aku mengerti.
Orde baru memang telah runtuh. Numun, dunia luar dan pers tidak mampu melihat bahwa di tanahku masi ada akar-akarnya yang tidak sempat dan belum tercabut yaitu akar-akar yang ditinngalakan batang pohon orde baru.
Kanda, aku harus bagai mana? Jika hanya aku sendiri yang akan berjuang. Mungkin memakan waktu yang lama untuk mengadakan perubahan.
Cukup samapai disini dulu, nanti dinda kirimkan surat-surat dilain hari.
Wassalam
Dariku
Hayati
***
surat yang dikirim hayati begitu sangat menggetarkan jiwaku . bukan persoalan kecintaanku padanya hingga jiwaku begitu bergetar. Lebih dari itu, suatu persoalan komunitas anak negeri yang termarginalkan dan masih hidup dalam ala alam orde baru, sekalipun repormasi sudah berjalan.
Bagai mana kita bisa menerima kondisi yang kontradiks dengan semangat repormasi. Bukankah repormasi adalah perubahansistem secara menyeluruh dan totalitas. Reformasi bukan hanya untuk Jakarta atau jawa dan bukan pula untuk kota-kota besar seperti halnya makassar. Sekalipun demikian, tetapi ternyata tidak untuk kampung halaman sang rembulanku si Hayati, gadis yang berasal dari pulau yang tidak kelihatan dalam globe dan kalau di petah Indonesia hanya kelihatan titik. Pulau Tanah Jampea.
Tidak terasa jarum jam menunjuk angka 01.30 wita,ternyata dari pkl 22.00-01.30 aku lewati dalam pergulatan pemikiran ,prihatin dan merindu pada Hayati.ini malam ,malam yang aneh bagiku.Suatu mlam yang tidak mampu kulewati dengan ngorok,ngiler, dan bermimpi bermesraan dengan Hayati di bukit hijau.Tidak seperti malam biasanya yang begitu indah kurasakan.
Karena kedua kelopak mataku tidak bisa bersetubuh.,maka kuputuskan untuk membuat secangkir teh dan kunikmatididalam kamarku.pikiranku masih tertuju pada Hayati dan orang2 di kampung halamannya yang dia tulis dan sekaligus akui sebagai saudara.Memang Hayati suka sekali menggunakan predikat saudara pada orang2 yang dia kenal.Dan itupun pernah kutanyakan padanya ketika kami masih sama2 di kampus Ijo.
“kenapa setiap ada orang yang kamu kenal,kamu selalu mengakuinya sebagai saudara.Kenapa tidak dengan menyebut namanya saja?” tanyaku
“Apakah kanda keberatan dengan sikapku itu?” Hayati balik bertanya
“Tidak,kanda tidak keberatan.Bukankah kamu merdeka dalam menentukan sikap?.kanda tidak ingin membatasimu.Tapi,kanda hanya ingin tahu kenapa kamu sellu memanggilnya dan bahkan mengakuinya sebagai saudara.Maaf,kanda bukan berarti menyempitkan atau men-degradasi makna dari kata saudara” aku balik menimpalinya.
“kanda,dengan membiasakan menyebutkata saudara, paling tidak ada energi positif yang ter transpormasi masuk ke dalam diri saya. Karna dinda memaknai kata saudara sebagai pernyataan diri kepada sesame bahwa dinda tidak akan pernah membencinya, merampas dan hak kemerdekaanya. Tidak pula akan berlaku zalim padanya. Apalagi merampok apa yang menjadi hak miliknya. Dinda tidak sekedar menggunakan kata saudara sebagai pengindah bait-bait atau kalimat yang dinda utarakan. Lihatlah kanda, orang-orang yang tidak mrmaknai kata saudara sebagai pernyataan diri untuk mengakui orang lain sebagai suatu simpul dengan sesama. Seperti halnya para elit-elit politik bangsa ini sering mrnggunakan kata saudara tapi mereka korup dan penguasa-penguasa sering zalim kepada rakyatnya. Apakah mereka memaknai kat saudara?. Lihat dipinggiran kota atau para PKL yang digusur padahal mereka adalah anak negeri ini yang berarti mereka adalah saudara kita. Tapi lebih menyakitkan lagi jika ku bandingkan dengan daerahku. Kesalahan sedikit saja, maka akan berakibat fatal. Sesuatu juga yang sampai hari ini masih membekas dalam benakku, ketika seorang anak Camat atau anak Kepala Desa atau anak-anak pejabat melakukan kesalahan. Mereka tidak diperlakukan seperti halnya masyarakat biasa. Bukankah itu suatu ketidak adilan? Kanda aku ingin agar semua anak negeri memaknai kata saudara sebagai suatu simpul tang tidak saling menyakiti, dan itu yang saya impikan. Persaudaraan yang mendunia.” Ujarnya.
Nampak aura keseriusan pada diri Hayati. Dia begitu bersemangat dalam menerjemahkan ide-ide ke dalam kata-kata yang memancing reaksi. Aku merenung dikala itu. Persaudaraan yang mendunia yang dia utarakan, tersirat mimpi yang ingin sekali dia raih dan aku sebagai kekasihnya, sejatinya mengantarkan Hayati pada tangga-tangga langit untuk memetik mimpinya.
***
Jarum jam menunjuk angka 03.15 WITA. Benar-benar kelopak mataku tidak bisa bersetubuh. Aku selalu di hantui baying-bayang kebengisan yang terjadi di tanah seberang. Pulau tempat labuhnya jantung hatiku.sesuatu yang tidak manusiawi telah terjadi. Misantrop (orang yang benci pada orang lain) suatu istilah yang ku pinjam dari Andre Comte-Spon Ville. Mungkin predikat ini cocok untuk manusia-manusia yang tidak memanusiakan manusia.
***
Perlahan kutarik secarik kertas dari tumpukan buku-buku di mejaku dan memulai menarik pena untuk menulis anak-anak kalimat, tidak lain untuk membalas surat rembulanku di pulau tanah jampea. Dari sekian lama waktu yang tersisa sebelu shalat subuh. Begitu banyak pula kertas-kertas yang aku kemuk, karena setiap aku memulai menulis dan mencipta 1,2,3 kalimat aku selalu merasa tidak puas dengan rankaian kata-kataku. Aku memang tidak ahli dalam menterjemahkan gagasan dan ide dalam membentuk kalimat yang luas. Karena ketabahan dan kesabaranlah untuk membalas surat Hayati hingga akhirnya tercipta surat untuk pertama kalinya dalam hidupku kubuat dengan pemikiran dengan sendirian dan hasil dari nyanyian jiwa yang merindu.
Untuk gadisku
Yang memtitahkan
Setitik rasa persaudaraan
Dalam jiwaku
Walaikum mussalam..Wr….Wb…
Kanda telah menerjemah suratmu, dan kanda juga dalam keadaan sehat walafiat, semega dinda juga merasakan yang sama.
Kanda begitu tersentu dalam membaca isi surat dinda , apalagi dinda menggambarkan tentang kendisi sosial yang sedan mamahat komunitas di tanah keluhuran dinda. Hampir tidak ada perubahan dsengan apa yang kuceritakan dikala kita masih dibanku kuliah. Disaat kita berda dalam pergulatan ide dan pancaran-pancaran intelektual dikampus ijo. Yang kemudian menyerit kita kedalam lembah cinta kasih.
Masih tertanam di benak kanda, tentang mimpi persaudaranmu yang mendunia. Kanda tidak berani mengatakn bahwa mimpimu itu terlalu besar, tetapi saya takilkau orangnya optimis dan akan salalu bermimpi. Jika pada generasi kita tidak mencapai mimpimu, palin tidak ada nilai-nilai yang terfrausformasi kedalam generasi berikutnya.
Gadisku sayang,
Gelar sarjana yang ada dipundakku dan kapasitas intelektualmu.cukup menjadi pendasi dasar untuk kau menjadi pelita dalam kegelapan kampungmu. Berbuatlah yang lebih sebagai bentuk penceraka dan sekaligus pengabdianmu sebagai anak negeri. Karemna anak negeri sejati adalah manusia yang mau cinta bangsanya dengan berbagai cara hingga apapun yang dilakukan tidak lain menjadikan kejayaan bangsa sebagai tujuan akhir.
Kanda hanya berharap agar dinda tidak perna putus asa dalam menapaki tangga-tangga menuju mimpi yang kau gantun di langit.
Sekian dulu surat kanda.
Dariku
Imran
***
Selesai juga surat balasanku yang kupersemnahkan kepada rembulan malamku, Hayati.
***
Pukul 15.30 WITA. Habis pulan dari tokoh buku, aku lansung menuju pelabuhan Paotere untik menitipkan surat yang kualamatkan pada Hayati. Lama juga aku mencari kapal motor Rezki Ilahi. Kapal yang mana Baderrrahim jadi salah satu ABK-nya. Aku mengenal Badelrrahim dari Hayati, karena suatu ketika, dimana Hayati masih ada di makassar. Kami sering ke pelabuhan Paotere menjemput kiriman dari orang tuanya. Karena dengan keseringan itulah aku jadi akrab dengan Baderrahim yang tidak lain tetangga Hayati di pulau.
***
Terlihat matahari mengapung di ufuk barat, tingal sejenkal sang raja siang itu akan tenggelam. Dalam pencarianku itu menemukan titik terang, karena baru saja aku melihat si Baderrahim keluar dari salah satu warung di Paotere. Akupun mengejarnya, dekat dan semakin mendekat, kuberikanlah sepucuk suratku dan buku yang aku bunkus dengan kertas buram. Sambil basa basi.
“bagai mana keadaan Hayati Daeng? Tanyaku, sekalipun aku suda tahu keadaannya lewat surat yang dia kirim.
“Alhamdulillah, Hayati sehat walafiat” ujurnya sinkat.
“kalau keluarganya?” tanyaku tanpa panjang lebar,
“Sehat, hanya saja ibunya serin sakit kepalanya mungkin karena usianya yang suda tua.”
Aku meman belum perna melihat keluarganya (Ayah, Ibu, dan Kakaknya) secara langsung. Hanya saja foto-foto mereka yang dipajam Hayati di kamar kosnya yang aku liat.
Pembicaraanku dengan Baderrahim terputus, aku baru- baru pamitan dan mengucapkan rasa terima kasiku.( Adzapun sudah berkemandang).
“terimakasih daeg. Akupun kemesjid untuk shalat magrib.”
“sama-sama” singkat . suatu kebahagiaan yang sering mengucapkan sesuatu ala kadarnya.
“katakana sama Hayati daeng. Kalau aku merindukannya dan akan selalu mencintainya.”
Baderrahim hanya senyum menanggapi pernyataan batin yang mendeklarasikan kerinduannya.”
“Assalamualaikum”
“Walaikummussalam”
Akupun berlalu meninggalkan daeng Baderrahim. Menuju mesjid untuk shalat. Sambil mengadu kepada sang pemilik hidup. Hari-hariku terlewati dengan kesunyian jiwa. Hatiku hanya tahu tentang rindu keoada Hayati,
***
Tiap minggu aku ke pelabuhan Paotere untuk menanti kehadiran surat Hayati. Apalagi dia berjanji untuk selalu mengirim surat kepadaku. Akan tetapi penantianku sia-sia. Surat dari Hayati tidak kunjung datang, Kapal Motor Rezki Ilahi juga tidak perna bersandar dai pelabuhan Paotere. Selama tiga tahun suda penantian itu tidak kunjung mendapatkan balasan surat dari Hayati. Akupun memutuskan untuk menhentikan kebiasaanku kepaotere. Setelah mendengar kabar kalau Hayati telah menika dengan seorang pemuda di kampungnya. Tapi aku yakin itu bukan keinginannya . hanya saja, sesuatu yang sedikit mengankat seberkas rasa bahagia dalam hatiaku. Setelah kudengar dia telah menjadi kepala desa di kampungnya. Kepala desa perempuan untuk mpertama kalinya di kampung itu. Dan sekaran telah berjuang mengikat masyarakatnya dengan simpul persaudaraan “mimpinya”.
***
Akupun jalani hari-hariku tanpa pendamping hidup. Aku terlanjur mencintai Hayati dan itu untuk selamanya…………………….